LAZISNU

Keutamaan dan Lafal Niat Puasa Tasu’a-Asyura

Sebagai umat muslim, tentu berpuasa merupakan salah satu ibadah yang sering kita lakukan. Dapat dilakukan di waktu-waktu tertentu, seperti di bulan Muharram ini.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ»

“Rasulullah Saw bersabda, ‘Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram. Sementara sholat paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.’”

Lebih lanjut, Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in juga mengatakan bahwa bulan utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah pada asyhurul hurum, terutama bulan Muharram.

“Bulan utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah asyhurul hurum (bulan-bulan mulia). Sementara di antara asyhurul hurum itu bulan Muharram adalah yang paling utama, kemudian Rajab, Dzulhijah, Dzulqa’dah, Sya’ban, dan puasa ‘Arafah.”

Puasa yang paling dianjurkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw adalah puasa di tanggal 10 Muharram (puasa Asyura). Namun, sebelum wafatnya beliau beritikad untuk juga berpuasa sebelum tanggal 10 Muharram sebagai pembeda dengan kaum yahudi.

Dijelaskan dalam Fathul Mu’in:

و) يوم (عاشوراء) وهو عاشر المحرم لأنه يكفر السنة الماضية كما في مسلم (وتاسوعاء) وهو تاسعه لخبر مسلم لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع فمات قبله والحكمة مخالفة اليهود ومن ثم سن لمن لم يصمه صوم الحادي عشر بل إن صامه لخبر فيه

“(Disunahkan) puasa hari Asyura, yaitu hari 10 Muharram karena dapat menutup dosa setahun lalu sebagai hadis riwayat Imam Muslim. (Disunahkan) juga puasa Tasu’a, yaitu hari 9 Muharram sebagai hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw bersabda, ‘Kalau saja aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa Tasu’a.’ Tetapi Rasulullah Saw wafat sebelum Muharram tahun depan setelah itu. Hikmah puasa Tasu’a adalah menyalahi amaliyah Yahudi. Dari sini kemudian muncul anjuran puasa hari 11 Muharram bagi mereka yang tidak berpuasa Tasu’a. Tetapi juga puasa 11 Muharam tetap dianjurkan meski mereka sudah berpuasa Tasu’a sesuai hadis Rasulullah Saw,” (Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari, Fathul Mu’in pada hamisy I‘anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz II, halaman 301).

Sementara bagi mazhab Syafi’i, puasa Asyura tanpa diiringi puasa sehari sebelum dan sesudahnya tidaklah menjadi larangan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Al-Umm (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Kota Baharu-Penang-Singapura, Sulaiman Mar‘i, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 266):

 (وفي الأم لا بأس أن يفرده (أي لا بأس أن يصوم العاشر وحد

“Di dalam, tak masalah hanya mengamalkan puasa Asyura saja. Maksudnya, agama tidak mempermasalahkan orang yang hanya berpuasa 10 Muharram saja (tanpa diiringi dengan puasa sehari sebelum dan sesudahnya).”

Terkait hal ini, Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (syarah sunan Tirmidzi) menjelaskan kategori puasa Muharram, sebagaimana berikut:

صَوْمِ الْمُحَرَّمِ ثَلَاثَةٌ الْأَفْضَلُ أَنْ يَصُومَ يَوْمَ الْعَاشِرِ وَيَوْمًا قَبْلَهُ وَيَوْمًا بَعْدَهُ وَقَدْ جَاءَ ذَلِكَ فِي حَدِيثِ أَحْمَدَ وَثَانِيهَا أَنْ يَصُومَ التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَثَالِثُهَا أَنْ يَصُومَ الْعَاشِرَ فَقَطْ

“Puasa Muharram ada tiga bentuk. Pertama, yang paling utama ialah puasa di hari kesepuluh beserta satu hari sebelum dan sesudahnya. Kedua, puasa di hari kesembilan dan kesepuluh. Ketiga, puasa di hari kesepuluh saja.”

Untuk menjalani puasa-puasa tersebut, ulama menganjurkan seseorang untuk melafalkan niatnya. 

  1. Niat Puasa Tasu’a

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit tasû‘â lillâhi ta‘âlâ.

“Aku berniat puasa sunnah Tasu’a esok hari karena Allah Swt.”

  1. Niat Puasa Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.

“Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah Swt.”

Jika pada praktiknya ingin mengamalkan sunah puasa Tasu’a atau Asyura di pagi hari tanpa berniat terlebih dahulu di malam hari, maka diperbolehkan berniat sejak ia berkehendak puasa sunah. Menurut Madzhab Syafi’i, kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib. Sedangkan untuk puasa sunnah, niat boleh dilakukan di siang hari selama belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Adapun, lafal niat puasa Tasu’a atau Asyura di siang hari berbeda. Berikut ini lafalnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء أو عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â awil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ

“Aku berniat puasa sunah Tasu’a atau Asyura hari ini karena Allah SWT.” 

Selain berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram ini, sahabat peduli juga dapat berpuasa hari Senin-Kamis ataupun di tanggal 13, 14, 15 (ayyamul bidh). Semoga dengan menjalani salah satu ibadah yang paling dianjurkan di bulan Muharram ini, kita mendapat keberkahan dan ridho Allah Swt. Aamiin.

Selain berpuasa, di bulan Muharram ada juga satu amalan yang sangat dianjurkan, yaitu mengusap kepala dan menyantuni anak yatim. Sahabat sekalian dapat menyantuni dan berbagi kebahagiaan untuk adik-adik yatim melalui campaign: Kado untuk Yatim dan Anak Jalanan di Bulan Muharram

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *